Ketua Umum PSSI Erick Thohir kembali menegaskan ambisi besarnya untuk membawa Timnas Indonesia menembus 100 besar dunia dalam peringkat FIFA. Target ini bukan hanya sebatas slogan atau mimpi kosong, tetapi telah dikemas dalam visi yang terukur, strategi yang sistematis, dan upaya yang intensif dari segala lini pembinaan sepak bola nasional. Saat ini, Timnas Indonesia masih tertahan di peringkat ke-134 FIFA per 3 April 2025, terpaut 23 posisi dan sekitar 86,6 poin dari Trinidad dan Tobago yang menduduki peringkat ke-111.
Namun, apakah target tersebut realistis? Apa saja yang menjadi hambatan dan peluang dalam misi tersebut? Bagaimana perbandingan kekuatan antara Indonesia dan negara-negara yang kini berada di kisaran peringkat 100 dunia? Artikel ini akan mengulas tuntas segala aspek yang terkait dengan perjuangan Timnas Indonesia dalam mengejar ketertinggalan menuju jajaran elite 100 besar dunia.
Pencapaian Terbaru Timnas Indonesia Tren Positif yang Menjanjikan
Timnas Indonesia mencatat lonjakan signifikan pada update peringkat FIFA terakhir. Kemenangan atas Vietnam dalam dua leg pada lanjutan Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia menjadi salah satu faktor utama yang mengatrol posisi Garuda dari peringkat 138 ke 134. Kemenangan 1-0 di Jakarta dan 3-0 di Hanoi tidak hanya memberikan enam poin penting untuk klasemen grup, tetapi juga membawa dampak positif bagi posisi Indonesia di tangga dunia.
Lonjakan empat peringkat ini menunjukkan bahwa Timnas Indonesia tengah berada dalam tren performa yang meningkat. Lebih dari itu, nilai koefisien FIFA Timnas Indonesia kini berada di angka 1106,24 poin—tertinggal sekitar 86,6 poin dari Trinidad dan Tobago yang memiliki 1192,84 poin. Meski selisih ini tidak bisa dianggap sepele, namun bukan pula jurang yang tak bisa dilompati.
Mengapa Target 100 Besar FIFA Sangat Penting
Bagi Erick Thohir, target masuk 100 besar bukan sekadar angka. Ini adalah bagian dari strategi besar untuk mengangkat citra, daya saing, serta kekuatan sepak bola Indonesia secara global. Berikut beberapa alasan mengapa target tersebut sangat krusial:
- Meningkatkan Gengsi dan Kepercayaan Diri
Masuk ke 100 besar dunia secara otomatis akan meningkatkan rasa percaya diri para pemain, pelatih, dan masyarakat. Ini akan menciptakan atmosfer kompetitif yang sehat dalam dunia sepak bola nasional.
- Membuka Peluang Uji Coba dengan Negara Elit
Negara-negara dengan ranking tinggi cenderung hanya menerima undangan uji coba dari tim yang selevel. Masuk ke jajaran 100 besar akan membuka lebih banyak pintu bagi Indonesia untuk mengadakan pertandingan persahabatan berkualitas.
- Menarik Minat Investor dan Sponsor
Klub-klub sepak bola dan federasi dari negara-negara yang masuk 100 besar biasanya lebih menarik perhatian investor, baik lokal maupun internasional. Ini akan memperkuat stabilitas finansial PSSI dan mendukung pembangunan infrastruktur.
Siapa Saja yang Harus Dilewati Indonesia
Untuk masuk 100 besar, Indonesia harus melompati setidaknya 23 negara. Beberapa negara yang kini berada di kisaran peringkat 100 hingga 120 FIFA antara lain:
- Trinidad dan Tobago (111) – 1192,84 poin
- India (121) – 1160,69 poin
- Gambia (118) – 1168,89 poin
- Kuwait (136) – 1094,15 poin
- Tanzania (122) – 1157,73 poin
- Korea Utara (115) – 1183,59 poin
- Guinea-Bissau (125) – 1143,45 poin
Melihat negara-negara ini, ada dua kesimpulan yang bisa ditarik. Pertama, Indonesia tidak tertinggal terlalu jauh dari mereka dalam hal kualitas sepak bola. Kedua, sebagian besar dari mereka adalah negara yang juga masih berkembang dalam sepak bola dan bukannya negara elite yang sulit dijangkau.
Strategi Menuju 100 Besar Tidak Bisa Instan
- Konsistensi di Kualifikasi
Salah satu kunci utama untuk menembus 100 besar adalah hasil positif di ajang resmi seperti Kualifikasi Piala Dunia dan Piala Asia. Erick Thohir dan pelatih Shin Tae-yong menyadari bahwa laga kontra China dan Jepang akan menjadi penentu arah Timnas ke depan.
Jika Indonesia mampu mencuri poin dari kedua negara tersebut, poin FIFA yang didapat akan sangat signifikan. Terutama jika menang atas China yang saat ini berada di peringkat 88 dunia.
- Uji Coba Internasional yang Tepat
Bermain melawan tim kuat dalam uji coba juga penting, tapi harus dihitung dengan cermat. Kalah dari tim yang jauh lebih kuat tidak akan menambah poin, bahkan bisa mengurangi. Karena itu, PSSI tengah menyusun jadwal uji coba melawan negara-negara yang sedikit di atas Indonesia, seperti Tajikistan, Uzbekistan, hingga Bahrain.
- Optimalisasi Pemain Keturunan
Masuknya pemain-pemain diaspora seperti Nathan Tjoe-A-On, Rafael Struick, Ivar Jenner, Jay Idzes, hingga Justin Hubner sangat membantu mengangkat kualitas teknis skuad Garuda. Rencana mendatangkan pemain keturunan lain juga terus dilakukan dengan prinsip selektif dan jangka panjang.
Tantangan Menuju 100 Besar Jalan Terjal yang Harus Dilalui
- Jadwal Kompetisi Padat
Ketatnya jadwal Liga 1, persiapan SEA Games, dan Piala Asia membuat waktu untuk pemusatan latihan terbatas. Hal ini bisa mengganggu persiapan menghadapi laga-laga penting FIFA Matchday.
- Keterbatasan Infrastruktur
Meski beberapa stadion seperti Jakarta International Stadium (JIS) dan GBK mulai sering digunakan, namun secara umum Indonesia masih butuh banyak perbaikan dalam hal fasilitas latihan dan pembinaan usia dini.
- Mentalitas Juara
Dalam berbagai kesempatan, pelatih Shin Tae-yong menyebutkan bahwa salah satu kelemahan utama pemain Indonesia adalah mental bertanding yang belum stabil. Ini menjadi pekerjaan rumah besar untuk bisa bersaing di level yang lebih tinggi.
Apa Kata Erick Thohir
Dalam pernyataan terbarunya, Erick Thohir menegaskan bahwa target 100 besar adalah bagian dari mimpi besar untuk menjadikan sepak bola sebagai alat pemersatu bangsa sekaligus kebanggaan internasional.
“Kita sudah buktikan bisa mengalahkan Vietnam, sekarang kita harus percaya bahwa kita bisa melangkah lebih jauh. Target kita adalah 100 besar dunia. Itu tidak mudah, tapi juga bukan mustahil,” ujar Erick kepada awak media di Jakarta.
Dia juga menambahkan bahwa kerja sama antara PSSI, pemerintah, klub, pelatih, dan suporter adalah kunci utama agar mimpi ini bisa terwujud.
Dukungan Suporter dan Masyarakat Faktor X yang Krusial
Tidak dapat disangkal, semangat suporter menjadi salah satu kekuatan terbesar Timnas Indonesia. Atmosfer yang diciptakan saat bermain di GBK atau JIS memberi efek psikologis positif bagi pemain dan tekanan bagi lawan.
Di media sosial, tagar seperti #GarudaDiDadaku dan #TimnasIndonesia sering kali menjadi trending topic tiap kali tim nasional bertanding. Dukungan inilah yang menjadi energi tambahan bagi para pemain.
Pembelajaran dari Negara Lain Kasus India dan Georgia
India, negara yang memiliki populasi besar seperti Indonesia, juga mengalami tantangan yang mirip dalam upaya masuk 100 besar. Namun mereka memilih pendekatan liga profesional yang lebih stabil dan pembinaan jangka panjang.
Sementara itu, Georgia yang kini merangsek ke peringkat 75 dunia, berhasil melesat berkat sistem pembinaan usia dini dan manajemen federasi yang profesional.
Indonesia bisa belajar dari dua negara ini—baik dari keberhasilan maupun dari hambatan yang mereka alami.
Apa yang Bisa Kita Harapkan di Tahun 2025
Jika Timnas Indonesia mampu mencuri setidaknya empat poin dari China dan Jepang, dan melanjutkannya dengan hasil positif di laga-laga uji coba berikutnya, maka bukan tidak mungkin Garuda akan menembus peringkat 120 bahkan lebih baik sebelum akhir 2025.
Masih ada Piala Asia U-23, potensi uji coba internasional, dan lanjutan Kualifikasi Piala Dunia sebagai ajang untuk menambah poin. Konsistensi menjadi kata kunci utama.
Mimpi yang Layak Diperjuangkan
Target masuk 100 besar FIFA bukan sekadar ambisi kosong. Ini adalah proyek kebangkitan sepak bola nasional yang telah lama dinanti. Erick Thohir, Shin Tae-yong, para pemain, dan seluruh rakyat Indonesia kini tengah berada dalam satu perahu perjuangan yang sama.
86,6 poin bukan hal yang mustahil jika dijalani dengan semangat, perencanaan matang, dan kerja keras yang konsisten. Seiring waktu, bukan tidak mungkin Timnas Indonesia tidak hanya menjadi tim yang menakutkan di Asia Tenggara, tetapi juga diperhitungkan di level Asia dan dunia.
Baca Juga: